Selasa, 28 Februari 2012
kesempatan kerja di dunia farmasi
Peluang bekerja di dunia farmasi sangatlah besar. Anda dapat bekerja sebaga apoteker ataupun asisten apoteker. Tak hanya sebagai itu, jika anda ingin lebih pengalaman lagi mungkin anda dapat mencoba bekerja di laboratorium atau di industri farmasi yang gajinya lumayan sebanding dengan hasil belajar anda. Ya,memang farmasi sangatlah banyak hapalan-hapalan yang mematikannya. Cukup banyak tenaga yang dibutuhkan serta waktu anda terkuras cukup banyak. Namun hasil yang didapatkan tentunya sebanding dengan hasil kerja keras anda.
Tantangan di dunia farmasi juga tentunya sangat kuat, pastinya dibutuhkan orang-orang yang pekerja keras, ulet serta gigih. Ketahuilah bahwa sekarang sangat dibutuhkan banyak lulusan farmasi. Ini merupakan peluang bagi anda yang ingin berkarir sukses. Anda dapat masuk Sekolah Menengah Farmsi ataupun SMK yang jurusan farmasi. Contohnya seperti sekolah saya di SMKN 7 Bandung terdapat jurusan farmasi. Ini cukup bagi anda belajar dasar-dasar ilmu kefarmasian, selanjutnya anda dapat memilih untuk melanjutkan kuliah ataupun bekerja.
Saya, farmasi dan SMKN 7 Bandung
Saya masuk ke SMKN 7 Bandung dan memilih jurusan farmasi. Awalnya saya tidak tahu bagaimana saja belajar tentang dunia farmasi dan yang saya tau farmasi hanya meracik obat. Setelah mengikuti arus belajar di SMKN 7 Bandung ini, tantangan mulai datang. Saya rasa belajar farmasi sangat melelahkan. Sebulan pertama saya rasa prsetasi belajar saya tidak meningkat. Setiap ulangan pasti remedial, apalagi KKM di SMKN 7 Bandung adalah 75 karena sekolah ini memang adalah sekolah RSBI. Tapi saya tak pernah berputus asa, jalan saya sudah dijalani. Dan tidak mungkin rasanya saya putus ditengah jalan, maka dengan niat yang ikhlas saya pun berusaha semampu saya dan belajar sungguh-sungguh hingga saya menemukan sebuah pencerahan atas prestai belajar yang mulai meningkat. Harus ditanamakan prinsip bahwa kita harus BISA menjalaninya.
Senin, 27 Februari 2012
sejarah farmasi dunia
Sejak masa Hipocrates (460-370 SM) yang dikenal sebagai “Bapak Ilmu Kedokteran”, belum dikenal adanya profesi Farmasi. Seorang dokter yang mendignosis penyakit, juga sekaligus merupakan seorang “Apoteker” yang menyiapkan obat. Semakin lama masalah penyediaan obat semakin rumit, baik formula maupun pembuatannya, sehingga dibutuhkan adanya suatu keahlian tersendiri. Pada tahun 1240 M, Raja Jerman Frederick II memerintahkan pemisahan secara resmi antara Farmasi dan Kedokteran dalam dekritnya yang terkenal “Two Silices”. Dari sejarah ini, satu hal yang perlu direnungkan adalah bahwa akar ilmu farmasi dan ilmu kedokteran adalah sama.
Dampak revolusi industri merambah dunia farmasi dengan timbulnya industri-industri obat, sehingga terpisahlah kegiatan farmasi di bidang industri obat dan di bidang “penyedia/peracik” obat (=apotek). Dalam hal ini keahlian kefarmasian jauh lebih dibutuhkan di sebuah industri farmasi dari pada apotek. Dapat dikatakan bahwa farmasi identik dengan teknologi pembuatan obat.
Pendidikan farmasi berkembang seiring dengan pola perkembangan teknologi agar mampu menghasilkan produk obat yang memenuhi persyaratan dan sesuai dengan kebutuhan. Kurikulum pendidikan bidang farmasi disusun lebih ke arah teknologi pembuatan obat untuk menunjang keberhasilan para anak didiknya dalam melaksanakan tugas profesinya.
Dilihat dari sisi pendidikan Farmasi, di Indonesia mayoritas farmasi belum merupakan bidang tersendiri melainkan termasuk dalam bidang MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) yang merupakan kelompok ilmu murni (basic science) sehingga lulusan S1-nya pun bukan disebut Sarjana Farmasi melainkan Sarjana Sains.
Departemen Tenaga Kerja Republik Indonesia (1997) dalam “informasi jabatan untuk standar kompetensi kerja” menyebutkan jabatan Ahli Teknik Kimia Farmasi, (yang tergolong sektor kesehatan) bagi jabatan yang berhubungan erat dengan obat-obatan, dengan persyaratan : pendidikan Sarjana Teknik Farmasi.
Buku Pharmaceutical handbook menyatakan bahwa farmasi merupakan bidang yang menyangkut semua aspek obat, meliputi : isolasi/sintesis, pembuatan, pengendalian, distribusi dan penggunaan.
Silverman dan Lee (1974) dalam bukunya, “Pills, Profits and Politics”, menyatakan bahwa :
1. Pharmacist lah yang memegang peranan penting dalam membantu dokter menuliskan resep rasional. Membanu melihat bahwa obat yang tepat, pada waktu yang tepat, dalam jumlah yang benar, membuat pasien tahu mengenai “bagaimana,kapan,mengapa” penggunaan obat baik dengan atau tanpa resep dokter.
2. Pharmacist lah yang sangat handal dan terlatih serta pakart dalam hal produk/produksi obat yang memiliki kesempatan yang paling besar untuk mengikuti perkembangan terakhir dalam bidang obat, yang dapat melayani baik dokter maupun pasien, sebagai “penasehat” yang berpengalaman.
3. Pharmacist lah yang meupakan posisi kunci dalam mencegah penggunaan obat yang salah, penyalahgunaan obat dan penulisan resep yang irrasional.
Sedangkan Herfindal dalam bukunya “Clinical Pharmacy and Therapeutics” (1992) menyatakan bahwa Pharmacist harus memberikan “Therapeutic Judgement” dari pada hanya sebagai sumber informasi obat.
Melihat hal-hal di atas, maka nampak adanya suatu kesimpangsiuran tentang posisi farmasi. Dimana sebenarnya letak farmasi ? di jajaran teknologi, Ilmu murni, Ilmu kedokteran atau berdiri sendiri ? kebingungan dalam hal posisi farmasi akan membingungkan para penyelenggara pendidikan farmasi, kurikulum semacam apa yang harus disajikan ; para mahasiswa bingung menyerap materi yang semakin hari semakin “segunung” ; dan yang terbingung adalah lulusannya (yang masih “baru”), yang merasa tidak “menguasai “ apapun.
Di Inggris, sejak tahun 1962, dimulai suatu era baru dalam pendidikan farmasi, karena pendidikan farmasi yang semula menjadi bagian dari MIPA, berubah menjadi suatu bidang yang berdiri sendiri secara utuh.rofesi farmasi berkembang ke arah “patient oriented”, memuculkan berkembangnya Ward Pharmacy (farmasi bangsal) atau Clinical Pharmacy (Farmasi klinik).
Di USA telah disadari sejak tahun 1963 bahwa masyarakat dan profesional lain memerlukan informasi obat tang seharusnya datang dari para apoteker. Temuan tahun 1975 mengungkapkan pernyataan para dokter bahwa apoteker merupakan informasi obat yang “parah”, tidak mampu memenuhi kebutuhan para dokter akan informasi obat Apoteker yang berkualits dinilai amat jarang/langka, bahkan dikatakan bahwa dibandingkan dengan apotekeer, medical representatif dari industri farmasi justru lebih merupakan sumber informasi obat bagi para dokter.
Perkembangan terakhir adalah timbulnya konsep “Pharmaceutical Care” yang membawa para praktisi maupun para “profesor” ke arah “wilayah” pasien.
Secara global terlihat perubahan arus positif farmasi menuju ke arah akarnya semula yaitu sebagai mitra dokter dalam pelayanan pada pasien. Apoteker diharapkan setidak-tidaknya mampu menjadi sumber informasi obat baik bagi masyarakat maupun profesi kesehatan lain baik di rumah sakit, di apotek atau dimanapun apoteker berada.
Sejak masa Hipocrates (460-370 SM) yang dikenal sebagai “Bapak Ilmu Kedokteran”, belum dikenal adanya profesi Farmasi. Seorang dokter yang mendignosis penyakit, juga sekaligus merupakan seorang “Apoteker” yang menyiapkan obat. Semakin lama masalah penyediaan obat semakin rumit, baik formula maupun pembuatannya, sehingga dibutuhkan adanya suatu keahlian tersendiri. Pada tahun 1240 M, Raja Jerman Frederick II memerintahkan pemisahan secara resmi antara Farmasi dan Kedokteran dalam dekritnya yang terkenal “Two Silices”. Dari sejarah ini, satu hal yang perlu direnungkan adalah bahwa akar ilmu farmasi dan ilmu kedokteran adalah sama.
Dampak revolusi industri merambah dunia farmasi dengan timbulnya industri-industri obat, sehingga terpisahlah kegiatan farmasi di bidang industri obat dan di bidang “penyedia/peracik” obat (=apotek). Dalam hal ini keahlian kefarmasian jauh lebih dibutuhkan di sebuah industri farmasi dari pada apotek. Dapat dikatakan bahwa farmasi identik dengan teknologi pembuatan obat.
Pendidikan farmasi berkembang seiring dengan pola perkembangan teknologi agar mampu menghasilkan produk obat yang memenuhi persyaratan dan sesuai dengan kebutuhan. Kurikulum pendidikan bidang farmasi disusun lebih ke arah teknologi pembuatan obat untuk menunjang keberhasilan para anak didiknya dalam melaksanakan tugas profesinya.
Dilihat dari sisi pendidikan Farmasi, di Indonesia mayoritas farmasi belum merupakan bidang tersendiri melainkan termasuk dalam bidang MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) yang merupakan kelompok ilmu murni (basic science) sehingga lulusan S1-nya pun bukan disebut Sarjana Farmasi melainkan Sarjana Sains.
Departemen Tenaga Kerja Republik Indonesia (1997) dalam “informasi jabatan untuk standar kompetensi kerja” menyebutkan jabatan Ahli Teknik Kimia Farmasi, (yang tergolong sektor kesehatan) bagi jabatan yang berhubungan erat dengan obat-obatan, dengan persyaratan : pendidikan Sarjana Teknik Farmasi.
Buku Pharmaceutical handbook menyatakan bahwa farmasi merupakan bidang yang menyangkut semua aspek obat, meliputi : isolasi/sintesis, pembuatan, pengendalian, distribusi dan penggunaan.
Silverman dan Lee (1974) dalam bukunya, “Pills, Profits and Politics”, menyatakan bahwa :
1. Pharmacist lah yang memegang peranan penting dalam membantu dokter menuliskan resep rasional. Membanu melihat bahwa obat yang tepat, pada waktu yang tepat, dalam jumlah yang benar, membuat pasien tahu mengenai “bagaimana,kapan,mengapa” penggunaan obat baik dengan atau tanpa resep dokter.
2. Pharmacist lah yang sangat handal dan terlatih serta pakart dalam hal produk/produksi obat yang memiliki kesempatan yang paling besar untuk mengikuti perkembangan terakhir dalam bidang obat, yang dapat melayani baik dokter maupun pasien, sebagai “penasehat” yang berpengalaman.
3. Pharmacist lah yang meupakan posisi kunci dalam mencegah penggunaan obat yang salah, penyalahgunaan obat dan penulisan resep yang irrasional.
Sedangkan Herfindal dalam bukunya “Clinical Pharmacy and Therapeutics” (1992) menyatakan bahwa Pharmacist harus memberikan “Therapeutic Judgement” dari pada hanya sebagai sumber informasi obat.
Melihat hal-hal di atas, maka nampak adanya suatu kesimpangsiuran tentang posisi farmasi. Dimana sebenarnya letak farmasi ? di jajaran teknologi, Ilmu murni, Ilmu kedokteran atau berdiri sendiri ? kebingungan dalam hal posisi farmasi akan membingungkan para penyelenggara pendidikan farmasi, kurikulum semacam apa yang harus disajikan ; para mahasiswa bingung menyerap materi yang semakin hari semakin “segunung” ; dan yang terbingung adalah lulusannya (yang masih “baru”), yang merasa tidak “menguasai “ apapun.
Di Inggris, sejak tahun 1962, dimulai suatu era baru dalam pendidikan farmasi, karena pendidikan farmasi yang semula menjadi bagian dari MIPA, berubah menjadi suatu bidang yang berdiri sendiri secara utuh.rofesi farmasi berkembang ke arah “patient oriented”, memuculkan berkembangnya Ward Pharmacy (farmasi bangsal) atau Clinical Pharmacy (Farmasi klinik).
Di USA telah disadari sejak tahun 1963 bahwa masyarakat dan profesional lain memerlukan informasi obat tang seharusnya datang dari para apoteker. Temuan tahun 1975 mengungkapkan pernyataan para dokter bahwa apoteker merupakan informasi obat yang “parah”, tidak mampu memenuhi kebutuhan para dokter akan informasi obat Apoteker yang berkualits dinilai amat jarang/langka, bahkan dikatakan bahwa dibandingkan dengan apotekeer, medical representatif dari industri farmasi justru lebih merupakan sumber informasi obat bagi para dokter.
Perkembangan terakhir adalah timbulnya konsep “Pharmaceutical Care” yang membawa para praktisi maupun para “profesor” ke arah “wilayah” pasien.
Secara global terlihat perubahan arus positif farmasi menuju ke arah akarnya semula yaitu sebagai mitra dokter dalam pelayanan pada pasien. Apoteker diharapkan setidak-tidaknya mampu menjadi sumber informasi obat baik bagi masyarakat maupun profesi kesehatan lain baik di rumah sakit, di apotek atau dimanapun apoteker berada.
Sejarah Farmasi [Dunia]
FARMASI
Arab ataupun lebih khusus lagi dikenali sebagai saydanah merupakan satu
bentuk profesi yang mulanya agak asing dari dunia kedokteran. Pada abad
ke-9, dunia Arab dan Islam telah berhasil membangun jembatan ilmu yang
menghubungkan antara sumbangan Yunani dengan dunia farmasi moderen
sekarang ini. Malah tahap ilmu yang diperoleh daripada Yunani khususnya
terus ditingkatkan dan usaha ini diteruskan hingga ke abad ke-13 melalui
berbagai karya, terjemahan ataupun peningkatan ilmu pada zaman-zaman
berikutnya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, farmasi dipraktekkan
secara terpisah dari profesi medis yang lain. Puncak sumbangan dunia
Arab-Islam dalam farmasi dicapai dengan siapnya satu panduan praktikum
farmasi pada tahun 1260.
Tulisan
berjudul Minhaj itu adalah hasil karya Abu’l-Muna al-Kohen al-Attar
dari Mesir. Al-Attar seorang ahli farmasi berpengalaman. Dalam Minhaj,
al-Attar menuliskan pengalaman hidupnya serta ilmu dalam seni apotek,
atau seni meracik ubat. Sebahagian besar buku itu menguraikan tentang
etika farmasi, salah satu topik penting dalam sejarah profesi kesehatan.
Sementara
itu, di kota-kota seperti Baghdad, profesi farmasi dipraktekkan dengan
rapi sehingga ahli farmasi mendapat perlindungan dan sanjungan daripada
pemerintah serta pengguna ketika itu. Melalui penyebaran perdagangan
dunia Islam yang kian pesat, dan daya tarik bahan rempah-rempah dan
bahan obat-obatan, menjadikan kedudukan profesi farmasi khususnya, dan
kesihatan pada umunya di dunia Arab semakin meningkat. Dan sebenarnya
bidang farmasi Barat adalah berasal daripada farmasi Arab dan Islam.
Aspek dan pengaruh Arab ini tidak ditulis oleh penulis barat pada
sejarah perubatan umumnya dan sejarah farmasi khususnya. Sedangkan pada
hakikatnya prestasi sains dan budaya dunia Arab begitu banyak
mempengaruhi profesi serta sumbangan pustaka farmasi di barat yang ada
hingga hari ini.
Sayangnya,
kurang daripada satu abad selepas al-Attar, praktek farmasi mulai beku
dan kaku, dan terus merosot dengan jatuhnya peradaban Arab pada abad ke
19. Sejak dari itu, farmasi mula berkembang dengan pesatnya di Eropah
khususnya dan Barat umumnya.
TOKOH ARAB DAN ISLAM YANG UTAMA
Yuhanna b. Masawayh (777 – 857)
Beliau
adalah anak seorang ahli farmasi (dikenali sebgai apoteker). Beliau
terkenal melalui tulisannya dalam bahasa Arab tentang meteria medica dan
rawatan. Salah satu daripadanya berjudul al-Mushajjar al-Kabir yang
menyusun daftar penyakit serta obat-obatnya dan juga pola makanan yang
berkaitan. Malah beliau menyatakan bahwa para dokter yang boleh
menyembuhkan penyakit dengan hanya melalui pengaturan pola makan tanpa
penggunaan ubat adalah yang paling berjaya dan beruntung. Masawayh juga
mengusulkan penggunaan beberapa tumbuhan terkenal untuk meningkatkan
sistem pertahanan tubuh terhadap penyakit. Beliau menyeru para dokter
agar menggunakan hanya satu obat untuk satu penyakit berdasarkan prinsip
empiriks dan analogi.
Bahan
yang banyak digunakan dalam terapi perubatan Arab adalah kamfora.
Menurut Masawayh bahan ini berasal dari China dan dibawa ke Arab melalui
perdagangan dengan India dan Parsi. Menurutnya lagi, sandalwood iaitu
bahan yang digunakan untuk menghasilkan minyak wangi, baik yang jenis
kuning, putih atau merah juga datang dari India. Bahan-bahan seperti ini
digunakan dalam sediaan farmasi Islam pada abad ke-8 (atau lebih awal
lagi) dan lewat ini istilah farmasi terbentuk dalam Islam. Misalnya,
kata-kata seperti al-Saydanani ataupunal-Saydalani yang berarti dia yang
menjual atau yang berkaitan dengansandalwood, sedang perkataan saydanah
bermaksud farmasi.
Pada
masa itu, Masawayh dikenal sebagai dokter dari beberapa khalifah, di
ibukota Abbasiah selama hampir empat dekade. Beliau juga merupakan
dokter Islam yang pertama mendirikan sekolah kolej farmasi swasta Arab.
Abu Hasan Ali bin Sahl Rabban al-Tabari
Beliau
dilahirkan pada 808, sahabat dari Masawayh. Pada usia 30 tahun beliau
diperintahkan untuk ke kota Samarra oleh Khalifah Mu’tasim (833-842)
untuk mengabdi sebagai dokter. Tabari menulis banyak buku kedokteran,
yang terkenal adalah Syurga Hikmah yang membicarakan tentang tingkah
laku manusia, kosmologi, embriologi, psikoterapi, kebersihan, pola makan
dan penyakit (akut dan kronik) serta cara merawatnya. Buku ini juga
memuat kisah-kisah kedokteran abstrak serta petikan dari referens yang
berbahasa India. Bukunya juga mengandung beberapa bab tentang meteria
medika, makanan biji-bijian, kegunaan terapeutik hewan serta organ-organ
burung dan juga campuran obat-obatan termasuk cara membuatnya.
Tabari
juga menyarankan agar nilai terapeutik setiap obat digunakan
berdasarkan tujuan-tujuan tertentu dan dokter harus pandai membuat
pilihan yang terbaik. Beliau pernah menguraikan dengan terperinci
penggunaan sesuatu bahan sebagai bahan terapeutik, termasuk cara-cara
menyimpannya sambil memperingatkan tentang bahaya yang ada pada bahan
tersebut. Contohnya peringatan terhadap penggunaan satu mithqal (lebih
kurang 4 gram) candu bisa menyebabkan tidur ataupun maut.
Sabur b. Sahl
Beliau
merupakan orang pertama menulis formula pertama dalam sejarah Islam.
Formula ini dikenali sebagai Agradadhin. Sabur meninggal dunia pada 869.
Dalam tulisannya, beliau memberikan resep kedokteran tentang kaedah dan
teknik meracik obat, tindakan farmakologinya, dosis-dosisnya untuk
setiap sekali pengunaan. Formula-formula ubat ini disusun berdasarkan
jenis sediaan: tablet, serbuk, salap, sirup dan sebagainya. Banyak dari
resep-reses ini menunjukkan persamaan dengan dokumen dari Asia Barat dan
Yunani-Roman.
Formula
ini ditulis untuk ahli-ahli farmasi apakah di apotik ataupun di
hospital. Oleh itu, hampir selama 200 tahun formula ini digunakan
sebagai panduan ahli farmasi di seluruh dunia Islam. Tulisan Sabur ini
merupakan satu langkah penting dalam sejarah farmakope dan banyak
disalin serta ditiru dalam buku kedokteran Arab selanjutnya.
Zayd Hunayn b. Ishaq al-Ibadi (809-873)
Sumbangan
beliau tidak kurang pentingnya kepada praktek farmasi dan kedokteran
Arab. Beliau adalah anak dari seorang apoteker. Hunayn diantar ke
Baghdad, yang pada masa itu merupakan pusat pendidikan Islam terpenting
untuk mengikuti pendidikan dalam perawatan. Beliau kemudian ke Syria,
Mesir dan negara sekitarannya untuk mendalami lagi latihannya. Setelah
beliau kembali ke Baghdad, beliau sudah mahir tentang asal-usul
perubatan Yunani khususnya yang diterjemahkan dalam Bahasa Syria.
Hunayn
memainkan peranan yang penting dalam penterjemahan atau penentuan
ketepatan terjemahan yang dilakukan (termasuk penulis Hippocrate, Gelen
dan penulis Yunani lain) di samping menulis buku-bukunya sendiri.
Sumbangannya menjadi lebih terasa pada tahun 830, Khalifah al-Ma’mun
mendirikan satu institusi sains (bait al-Hikmah) untuk tujuan
penyelidikan dan penterjemahan bahan-bahan Yunani ke dalam bahasa Arab.
Hunayn menjadi pembimbing pusat kajian ini dan dalam masa 40 tahun,
beliau menterjemahkan dan mewujudkan istilah serta rangkaian kata yang
digunakan untuk tujuan praktek kedokteran dan pengajaran.
Antara
buku dan tulisan Hunayn adalah tentang aspek kebersihan mulut, pecuci
dan penggunaan bahan-bahan pergigian. Beliau terkenal sebagai penulis
Arab pertama yang melakukan hal ini. Beliau juga yang menemukan
bahan-bahan makanan dan minuman yang dianggap dapat merusak gigi. Hunayn
juga mengusulkan pembersihan gigi, khususnya selepas makan seperti yang
dianjurkan dalam kedokteran moderen. Tulisannya yang lain termasuklah
tentang nilai gizi dan pemakanan, tentang mandi, terapi gizi secara umum
dan juga tentang bunga mawar serta obat-obatan tertentu.
Langganan:
Komentar (Atom)
